Popular posts

student ittelkom. Diberdayakan oleh Blogger.

Memberikan layanan informasi mengenai teknik industri

Archive for Maret 2014

COBIT

Minggu, 23 Maret 2014
Posted by Mohamad Taufik
CONTROL OBJECTIVE FOR INFORMATION AND RELATED TECHNOLOGY (COBIT) adalah suatu panduan standar praktik manajemen teknologi informasi untuk IT Governance yang dapat membantu auditor, pengguna (user), dan manajemen, untuk menjembatani gap antara resiko bisnis, kebutuhan kontrol dan masalah-masalah teknis IT. Standar COBIT dikeluarkan oleh IT Governance Institute yang merupakan bagian dari ISACA.
Tahap perkembangan COBIT :
Manfaat penerapan COBIT adalah menyediakan kebijakan yang jelas dan good practice untuk IT governance, membantu manajemen senior dalam memahami dan mengelola resiko-resiko yang berhubungan dengan IT.
Kerangka kerja COBIT terdiri dari beberapa pedoman, yaitu :
1.       Control Objectives
Terdiri atas 4 tujuan pengendalian tingkat-tinggi (high-level control objectives) yang terbagi dalam 4 domain, yaitu : Planning & Organization , Acquisition & Implementation Delivery & Support , dan Monitoring & Evaluation.
2.       Audit Guidelines
Berisi sebanyak 318 tujuan-tujuan pengendalian yang bersifat rinci (detailed control objectives) untuk membantu para auditor dalam memberikanmanagement assurance dan/atau saran perbaikan.
3.       Management Guidelines
Berisi arahan, baik secara umum maupun spesifik, mengenai apa saja yang mesti dilakukan, terutama agar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :
·         Sejauh mana TI harus bergerak atau digunakan, dan apakah biaya TI yang dikeluarkan sesuai dengan manfaat yang dihasilkannya.
·         Apa saja indikator untuk suatu kinerja yang bagus.
·         Apa saja faktor atau kondisi yang harus diciptakan agar dapat mencapai sukses ( critical success factors ).
·         Apa saja risiko-risiko yang timbul, apabila kita tidak mencapai sasaran yang ditentukan.
·         Bagaimana dengan perusahaan lainnya, apa yang mereka lakukan.
·         Bagaimana mengukur keberhasilan dan bagaimana pula membandingkannya.
Lingkup kriteria informasi yang sering menjadi perhatian dalam COBIT adalah :
·        Effectiveness
Menitikberatkan pada sejauh mana efektifitas informasi dikelola dari data-data yang diproses oleh sistem informasi yang dibangun.
·        Efficiency
Menitikberatkan pada sejauh mana efisiensi investasi terhadap informasi yang diproses oleh sistem.
·        Confidentiality
Menitikberatkan pada pengelolaan kerahasiaan informasi secara hierarkis.
·        Integrity
Menitikberatkan pada integritas data/informasi dalam sistem.
·        Availability
Menitikberatkan pada ketersediaan data/informasi dalam sistem informasi.
·        Compliance
Menitikberatkan pada kesesuaian data/informasi dalam sistem informasi.
·        Reliability
Menitikberatkan pada kemampuan/ketangguhan sistem informasi dalam pengelolaan data/informasi.
Hingga kini dalam perkembangannya framework COBIT yang masih digunakan adalah COBIT 4.0 dan COBIT 5 karena dapat menyesuaikan kebutuhan perusahaan mengenai penerapan IT.

COBIT 4.0
Memberikan fokus bisnis yang cukup kuat untuk mengatasi tanggungjawab para direktur dan pegawai. Dalam COBIT 4.0, IT sudah menjadi enabler yaitu sudah menjadi alat utama dalam perkembangan proses bisnis perusahaan. COBIT 4.0 mampu menjadi sebuah dokumen yang sangat bermanfaat.  COBIT 4.0 ini juga mencakup bimbingan bagi para direktur dan semua level manajemen dan terdiri atas 4 bagian :
1.       Gambaran luas mengenai eksekutif
2.       Kerangka kerja
3.       Isi utama (tujuan pengendalian, petunjuk manajemen dan lain-lain). Isi utama dibagi menjadi 34 proses IT dan memberikan gambaran yang sempurna mengenai cara mengendalikan, mengelola dan mengukur masing-masing proses.
4.       Appendiks (pemetaan, ajuan silang dan daftar kata-kata).

Selain itu prinsip penerapan COBIT 4.0 adalah
·      Menganalisa bagaimana tujuan pengendalian dapat dipetakan ke dalam lima wilayah penentuan IT agar dapat mengidentifikasi gap potensial.
·      Menyesuaikan dan memetakan COBIT ke standar yang lain (ITIL, CMM, COSO, PMBOK, ISF and ISO 17799)
·      Mengklarifikasikan indikator tujuan utama (KGI) dan indikator hubungan kinerja utama (KPI), dengan mengenal bagaimana KPI dapat bergerak mencapai KGI.
·      Menghubungkan tujuan bisnis, IT and proses IT (penelitian mendalam di delapan industri dengan pandangan yang lebih jelas tentang bagaimana proses COBIT mendukung tercapainya tujuan IT spesifik dan dengan perluasan, tujuan bisnis).

COBIT 5
COBIT 5 adalah edisi terbaru dari Framework COBIT ISACA yang menyediakan penjabaran bisnis secara end-to-end dari tatakelola teknologi informasi perusahaan untuk menggambarkan peran utama dari informasi dan teknologi dalam menciptakan nilai perusahaan. COBIT 5 dibangun berdasarkan pengembangan dari COBIT 4.1 dengan mengintegrasikan Val IT dan Risk IT dari ISACA, ITIL, dan standar-standar yang relevan dari ISO.
COBIT 5 didasarkan pada 5 prinsip kunci tatakelola dan manajemen TI perusahaan yaitu :
·         Pemenuhan kebutuhan Stakeholder
·         Melindungi titik-titik penting perusahaan
·         Penggunaan sebuah framework terintegrasi
·         Memungkinkan pendekatan secara holistik
·         Meminsahkan tatakelola dengan manajemen
COBIT 5 mendeskripsikan 7 kategori yang berperan sebagai penggerak yaitu :
·         Prinsip-prinsip, kebijakan-kebijakan, dan framework, adalah sarana untuk menerjemahkan tingkah laku yang diinginkan ke dalam petunjuk praktek untuk pelaksanaan manajemen harian.
·         Proses, menjelaskan kumpulan terorganisasi dari praktek-praktek  dan aktifitas-aktiftas untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dan menghasilkan sekumpulan keluaran di dalam dukungan pencapaian seluruh sasaran TI
·         Struktur organisasi, entitas pembuatan keputusan kunci di dalam perusahaan
·         Budaya, etika, dan tingkah laku, merupakan kebiasaan dari individu dan perusahaan yang sering dianggap sebagai faktor penghambat kesuksesan di dalam aktifitas tatakelola dan manajemen.
·         Informasi, adalah sebuah kebutuhan untuk memastikan agar organisasi tetap berjalan dan dapat dikelola dengan baik. Tetapi di tingkat operasional, informasi seringnya digunakan sebagai hasil dari proses perusahaan
·         Layanan, infrastruktur dan aplikasi, menyediakan layanan dan proses teknologi informasi bagi perusahaan
·         Orang, keterampilan dan kemampuan, dibutuhkan untuk menyelesaikan semua aktifitas dan membuat keputusan yang tepat serta mengambil aksi-aksi perbaikan.

PERBEDAAN COBIT 4 dan COBIT 5
CobiT 5 —sebagaimana juga Val IT dan Risk IT—ini lebih berorientasi pada prinsip, dibanding pada proses. Berdasarkan feedback yang masuk, menyatakan bahwa ternyata penggunaan prinsip-prinsip itu lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam konteks enterprise secara lebih efektif.
CobiT 5 memberi penekanan lebih kepada Enabler. Walaupun sebenarnya CobiT 4.1 juga menyebutkan adanya enabler-enabler, hanya saja Cobit 4.1 tidak menyebutnya dengan enabler. Sementara CobiT 5 menyebutkan secara spesifik ada 7 enabler dalam implementasinya.
CobiT 5 mendefinisikan model referensi proses yang baru dengan tambahan domain governance dan beberapa proses baik yang sama sekali baru ataupun modifikasi proses lama serta mencakup aktifitas organisasi secara end-to-end. Selain mengkonsolidasikan CobiT 4.1, Val IT, dan Risk IT dalam sebuah framework, CobiT 5 juga dimutakhirkan untuk menyelaraskan dengan best practices yang ada seperti misalnya ITIL v3 2011 dan TOGAF.
CobiT 5 terdapat proses-proses baru yang sebelumnya belum ada di CobiT 4.1, serta beberapa modifikasi pada proses-proses yang sudah ada sebelumnya di CobiT 4.1. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa model referensi proses CobiT 5 ini sebenarnya mengintegrasikan konten CobiT 4.1, Risk IT dan Val IT.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/COBIT
http://cobitindo.blogspot.com/
http://youtu.be/q7xexHtwSGI
http://budi.staf.upi.edu/
http://www.isaca.org/COBIT/Pages/default.aspx
http://www.scribd.com/doc/153084837/Makalah-COBIT

CMMI

Posted by Mohamad Taufik
CAPABILITY MATURITY MODEL INTEGRATION (CMMI) adalah maturity model untuk process improvement bagi pengembangan produk maupun service. CMMI dikembangkan sebagai jawaban atas kebutuhan lingkungan teknologi kontemporer yang kompetitif untuk mengontrol masuknya konsep teknologi baru dan praktek untuk pengembangan perangkat lunak. Tujuannya adalah untuk membantu organisasi meningkatkan proses pengembangan dan maintenance dalam pengembangan produk dan services.
Manfaat penerapan CMMI antara lain :
·         Penilaian studi kualitas (assessing) atas proses kematangan (maturity) terkini.
·         Meningkatkan kualitas struktur organisasi dan pemrosesan dengan mengikuti pendekatan best-practice.
·         Digunakan dalam proses uji-kinerja (benchmarking) dengan organisasi lainnya.
·         Meningkatkan produktivitas dan menekan resiko proyek.
·         Menekan resiko dalam pengembangan perangkat lunak.
·         Meningkatkan kepuasan pelanggan.
·         Mempunyai fitur-fitur yang bersifat institusional, yaitu komitmen, kemampuan untuk melakukan sesuatu, analisis dan pengukuran serta verifikasi implementasi.
·         Tersedianya “Road Map” untuk peningkatan lebih lanjut.
CMMI memiliki model yang berbeda yaitu :
1.       CMMI for Services (CMMI-SVC)
·      Dirancang untuk mengcover kegiatan yang dibutuhkan dalam mengelola, menetapkan, dan memberikan services.
·      Menyediakan panduan untuk penerapan praktik terbaik CMMI dan mengintegrasikan pengetahuan yang penting untuk penyedia services
·      Memberikan best practices yang fokus padakegiatan untuk menyediakan services yang berkualitas kepada pelanggan dan pengguna akhir.
2.       CMMI for Acquisition (CMMI-ACQ)
·      Memberikan panduan kepada organisasi akuisisi untuk memulai dan mengelola akuisisi produk dan jasa yang memenuhi kebutuhan pelanggan
·      Berfokus pada proses pengakuisisi dan mengintegrasikan pengetahuan yang penting untuk keberhasilan sebuah akuisisi.
·      Mempengaruhi hasil dari proses akuisisi, memberikan kemampuan yang tepat untuk pengguna operasional sesuai jadwal dan dengan biaya yang diprediksi melalui penerapan disiplin dari proses akuisisi yang efisien dan efektif.
3.       CMMI for Development (CMMI-DEV)
·      Maturity model perbaikan proses  terdiri dari praktek terbaik yang membahas pengembangan dan pemeliharaan kegiatan yang mencakup siklus hidup produk mulai dari konsep sampai delivery dan pemeliharaan.
·      Mengintegrasikan pengetahuan yang penting untuk pengembangan dan pemeliharaan.
Ada beberapa tingkatan dalam CMMI antara lain :

1.       Level 1 – Initial
Pada ML1 ini proses biasanya berbentuk ad hoc. Sukses pada level ini didasarkan pada kerja keras dan kompetensi yang tinggi orang-orang yang ada didalam organisasi tersebut.
2.       Level 2 – Managed
Pada ML2 ini sebuah organisasi telah mencapai seluruh specific dan generic goals pada Level 2. Dengan kata lain seluruh proses dalam organisasi telah direncanakan, dilaksanakan, diukur, dan dikontrol dengan baik.
3.       Level 3 – Defined
Pada ML3 ini sebuah organisasi telah mencapai seluruh specific dan generic goals pada Level 2 dan Level 3. Proses dicirikan dan dipaparkan dalam standar, prosedur, tool, dan metode.
4.       Level 4 - Quantitatively Managed
Pada ML4 ini, sebuah organisasi telah mencapai seluruh specific dan generic goals yang ada pada Level 2, 3, dan 4. Sebuah subproses dipilih yang secara signifikan terlibat dalam keseluruhan proses. Subproses yang terpilih ini kemudian dikontrol dengan menggunakan statistik atau teknik kuantitative lainnya.
5.       Level 5 – Optiming
Pada ML5 ini suatu organisasi telah mencapai seluruh specific dan generic goals yang ada di Level 2, 3, 4, dan 5. ML 5 fokus kepada peningkatan proses secara berkesinambungan melalui inovasi teknologi.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/CMMI
http://teknologibroadband.blogspot.com/2009/01/capability-maturity-model-integration.html
http://budi.staf.upi.edu/

TOGAF

Posted by Mohamad Taufik
The Open Group Architecture Framework (TOGAF)
Architecture Development Method

The Open Group Architecture Framework (TOGAF) adalah suatu kerangka kerja arsitektur perusahaan yang memberikan pendekatan komprehensif untuk desain, perencanaan, implementasi, dan tata kelola arsitektur informasi perusahaan.

Kategori Enterprise Architecture Dalam TOGAF :
·         Business Architecture:
Deskripsi  tentang bagaimana proses bisnis untuk mencapai tujuan organisasi.
·         Application Architecture:
Deskripsi   bagaimana aplikasi tertentu didesain  dan bagaimana interaksinya dengan aplikasi lainnya.
·         Data Architecture :
Penggambaran bagaimana penyimpanan, pengelolaan dan pengaksesan data pada perusahaan.
·         Technical Architecture :
Gambaran mengenai insfrastruktur hardware dan software yang mendukung aplikasi dan bagaimana interaksinya.

Ada 3 komponen utama pada framework enterprise architecture yaitu :
·         Pandangan : memberikan mekanisme untuk mengkomunikasi informasi mengenai keterkaitan
·         Metode : menyediakan disiplin untuk mendapatkan dan mengorganisasi data dan membangun pandangan untuk dapat menolong integritas, keakuratan dan kelengkapan
·         Pelatihan : mendukung aplikasi dari metode dan penggunaan peralatan.

Komponen penyusun TOGAF :
·         Architecture Development Method (ADM)
Memberikan gambaran rinci bagaimana menentukan sebuah enterprise architecture secara spesifik berdaarkan kebutuhan bisnisnya.
·         Foundation Architecture (Enterprise Continuum)
Berisi gambaram hubungan untuk pengumpulan arsitektur yang relevan, juga menyediakan bantuan petunjuk pada saat terjadinya perpindahan abstraksi level yang berbeda.
·         Resource Base:
Berisi informasi mengenai guidelines, templates, checklist, latar belakang informasi dan detil material pendukung yang membantu arsitek didalam penggunaan ADM.
Tahapan metode pengembangan TOGAF :
1.    Preliminary Phase
Aktivitas persiapan untuk menyusun kapabilitas arsitektur termasuk kustomisasi TOGAF dan mendefinisikan prinsip-prinsip arsitektur. Tujuan fase ini  adalah untuk menyakinkan setiap orang yang terlibat di dalamnya bahwa pendekatan ini untuk mensukseskan proses arsitektur. Pada fase ini harus menspesifikasikan who, what,  why, when, dan where dari arsitektur itu sendiri.
2.    Architecture Vision
Fase inisiasi dari siklus pengembangan arsitektur yang mencakup pendefinisian ruang lingkup, identifikasi stakeholders, penyusunan visi arsitektur, dan pengajuan persetujuan untuk memulai pengembangan arsitektur.
Beberapa langkah yang dilakukan pada fase ini adalah :
  • Menentukan / menetapkan proyek.
  •  Mengindentifikasi tujuan dan pergerakan bisnis. Jika hal ini sudah didefinisikan, pastikan definisi ini masih sesuai  dan lakukan klarifikasi terhadap bagian yang belum jelas.
  • Meninjau prinsip arsitektur termasuk prinsip  bisnis. Meninjau ini berdasarkan arsitektur saat ini yang akan dikembangkan. Jika hal ini sudah didefinisikan, pastikan definisi ini masih sesuai  dan lakukan klarifikasi terhadap bagian yang belum jelas.
  •  Mendefinisikan apa yang ada di dalam dan di luar rungan lingkup usaha saat ini.
  • Mendefinisikan batasan-batasan seperti waktu, jadwal, sumber daya dan sebagainya.
  • Mengindentifikasikan stakeholder, kebutuhan bisnis dan visi arsitektur.
  •  Mengembangkan Statement of Architecture Work.
3.    Business Architecture
Fase ini mencakup pengembangan arsitektur bisnis untuk mendukung visi arsitektur yang telah disepakati. Pada tahap ini tools  dan  method  umum untuk pemodelan seperti:  Integration DEFinition (IDEF) dan  Unified Modeling Language  (UML) bisa digunakan untuk membangun model yang diperlukan.
4.    Information Systems Architectures
Pada tahapan ini lebih menekankan pada aktivitas bagaimana arsitektur sistem informasi dikembangkan. Pendefinisian arsitektur sistem informasi dalam tahapan ini meliputi arsitektur data dan arsitektur aplikasi yang akan digunakan oleh organisasi. Arsitektur data lebih memfokuskan pada bagaimana data digunakan untuk kebutuhan fungsi bisnis, proses dan layanan. Teknik yang bisa digunakan dengan yaitu:  ER-Diagram,  Class Diagram, dan  Object Diagram.
Beberapa langakah yang diperlukan untuk membuat arsitektur data adalah:
·         Mengembangkan deskripsi arsitektur data dasar
·         Review dan validasi prinsip, reference model, sudut pandang dan tools.
·         Membuat model arsitektur
·         Memilih arsitektur data building block
·         Melengkapi arsitektur data
·         Melakukan gap analysis  arsitektur data saat ini dengan arsitektur data target  dan membuat laporan.
5.    Technology Architecture
Membangun arsitektur teknologi yang diinginkan, dimulai dari penentuan jenis kandidat teknologi yang diperlukan dengan menggunakan  Technology Portfolio Catalog yang meliputi perangkat lunak dan perangkat keras. Dalam tahapan ini juga mempertimbangkan alternatif-alternatif yang diperlukan dalam pemilihan teknologi.
Beberapa langkah yang diperlukan  untuk membuat arsitektur teknologi yaitu:
·         Membuat deskripsi dasar dalam format TOGAF
·         Mempertimbangkan  reference model arsitektur yang berbeda, sudut pandang dan tools.
·         Membuat model arsitektur dari building block
·         Memilih services portfolio yang diperlukan untuk setiap building block
·         Mengkonfirmasi bahwa tujuan bisnis tercapai
·         Menentukan kriteria pemilihan spesifikasi
·         Melengkapi definisi arsitektur
·         Melakukan  gap analysis antara arsitektur teknologi saat ini dengan arsitektur teknologi target.
6.    Opportunities and Solutions
Pada tahap ini akan dievaluasi model yang telah dibangun untuk arsitektur saat ini dan tujuan, indentifikasi proyek utama yang akan dilaksanakan untuk mengimplementasikan arsitektur tujuan dan klasifikasikan sebagai pengembangan baru atau penggunaan kembali sistem yang  sudah ada. Pada fase ini juga akan direview gap analysis yang sudah dilaksanakan pada fase D.
7.    Migration and Planning
Pada fase ini akan dilakukan analisis resiko dan biaya. Tujuan dari fase ini adalah untuk memilih proyek implementasi yang bervariasi menjadi urutan prioritas. Aktivitas mencakup penafsiran ketergantungan, biaya, manfaat dari proyek migrasi yang bervariasi. Daftar  prioritas proyek akan berjalan untuk membentuk dasar dari perencanaan implementasi detail dan rencana migrasi.
8.    Implementation Governance
Fase ini mencakup pengawasan terhadap implementasi arsitektur.
Tujuan dari fase ini adalah :
·         Untuk merumuskan rekomendasi dari tiap-tiap proyek implementasi
·         Membangun kontrak arsitektur untuk memerintah proses deployment dan implementasi secara keseluruhan
·         Melaksanakan fungsi pengawasan secara tepat selagi sistem sedang diimplementasikan dan dideploy
·         Menjamin kecocokan dengan arsitektur yang didefinisikan oleh proyek implementasi dan proyek lainnya.
9.    Architecture Change Management
Fase ini mencakup penyusunan prosedur-prosedur untuk mengelola perubahan ke arsitektur yang baru.  Pada fase ini akan diuraikan  penggerak perubahan dan bagaimana memanajemen perubahan tersebut, dari pemeliharaan sederhana sampai perancangan kembali arsitektur.

DAFTAR PUSTAKA
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Open_Group_Architecture_Framework
http://budi.staf.upi.edu/
http://id.wikipedia.org/wiki/TOGAF
http://cio-indo.blogspot.com/2011/12/pengenalan-togaf.html

PENGENALAN SISTEM INFORMASI

Posted by Mohamad Taufik
SISTEM adalah sekelompok elemen atau komponen yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan. Tiga komponen SISTEM yaitu :
1.    INPUT
2.    PROSES
3.    OUTPUT

INFOMASI adalah data yang telah diubah ke dalam bentuk yang memiliki arti dan berguna bagi end user tertentu.

SISTEM INFORMASI adalah gabungan dari beberapa elemen yang terorganisir yang terdiri dari orang-orang, perangkat keras (hardware), piranti lunak (software), jaringan komunikasi, dan sumber-sumber daya yang mengumpulkan, mengubah, dan menyebarkan informasi dalam sebuah organisasi.
Sistem Informasi dapat diterapkan diberbagai bidang pekerjaan, contoh Sistem Informasi adalah :

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN adalah salah satu tipe sistem informasi yang menghasilkan informasi untuk mendukung kebutuhan pengambilan keputusan sehari-hari dari manajer dan para profesional bisnis. (O’Brien dan Marakas, 2006)

Penerapan SISTEM INFORMASI MANAJEMEN memiliki tujuan, antara lain:
  • Menyediakan INFORMASI yang dipergunakan di dalam perhitungan harga pokok jasa, produk, dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.
  • Menyediakan INFORMASI yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan.
  • Menyediakan INFORMASI untuk pengambilan keputusan.
Ada beberapa tahapan dalam penerapan SISTEM INFORMASI MANAJEMEN yaitu :
1.    Instalasi dan Training Sistem
Tahap  implementasi  adalah tahapan penerapan sistem yang telah dikembangkan ke dalam perusahaan. Terdiri atas data conversion, yaitu tahap penginputan data pada sistem lama ke sistem baru. Sedangkan Training yaitu kegiatan pelatihan kepada user, dan documentation yaitu kegiatan mengdokumentasikan sistem baru.
2.    Konversi Sistem
Sistem baru dikonversi dulu ke dalam proses bisnis perusahaan. Ada 4 cara yang dapat dipakai dalam mengkonversi sistem, yaitu:

  • Parallel conversion, sistem baru dijalankan bersamaan dengan sistem yang lama.
  • Pilot conversion, sistem dikonversikan pada satu bagian yang dijadikan sebagai percontohan.
  • Phases conversion, sistem dikonversikan secara bertahap dari sistem lama ke sistem yang baru.
  • Direct conversion, sistem baru langsung menggantikan sistem yang lama.

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN memiliki peranan dalam perkembangan bisnis suatu perusahaan, antara lain :


Skema penerapan TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI MANAJEMEN adalah 

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_informasi
http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_informasi_manajemen
http://www.slideshare.net/ChristianYLokas/sistem-informasi-manajemen-sim
http://budi.staf.upi.edu/